Sejarah Haji di Kalsel (2), Berangkat Haji seperti Berangkat Mati

sejarah haji kalsel. muhibbin.com

Kapal menjadi senyap kala itu, semua merasakan kesedihan di antara takut dan harap kepada Tuhan. Sebab, tak tahu harus berapa lama lagi sampai di tempat tujuan. Dan menyusul teman ke alam baqa mungkin saja terjadi bagi seluruh penumpang. 

Sementara bagi para sanak keluarga di kampung halaman hanya bisa mengurut dada dan melepas dengan kerelaan ketika mengetahui kabar keluarganya telah meninggal di dalam perjalanan. Hal ini dialami keluarga H Mas’ud warga Desa Tambak Danau Kecamatan Astambul, Banjar. “Paman kami, H Arsyad meninggal di tengah perjalanan dan harus ditenggelamkan di lautan. Mau bagaimana lagi, meski sedih keluarga kami harus merelakannya,” ujarnya.

Tapi, Jangan berkecil hati bagi keluarga yang ditinggalkan. Sebab, KH Matran Salman Lc mengungkapkan, “Bagi mereka yang meninggal di tengah perjalanan untuk berhaji karena Allah SWT, maka mereka mendapatkan haji mabrur di sisi Allah karena niatnya.

Baca Juga: https://muhibbin.net/puasa-ramadhan-pertama-dalam-sejarah/

***

Sampai di tanah haram, para jamaah tak lagi mendapat bantuan makan dari catering kapal. Tapi mesti berjuang, membeli atau memasak sendiri. Namun, sebagaimana kebijakan pemerintah sekarang, di masa itu pun juga terdapat pengembalian sebagian dana untuk biaya jamaah sewaktu di sana. “Uang yang dikembalikan sekitar seribu delapan ratus rupiah,” ujar Hj Rodiah.

Kendati demikian, bekal yang telah dipersiapkan pun lama kelamaan habis juga. Terutama bahan makanan pokok berupa beras. Hal itu membuat jamaah haji Indonesia terpaksa membeli beras impor dari negeri Paman Sam. “Beras Amerika bentuknya lebih besar ketimbang beras kita,” tutur Hj Rodiah.

Mengenai ritual berhaji tentunya tak ubahnya seperti orang sekarang. Hanya saja akses ke Baitul Haram lebih mudah karena dekatnya penginapan.

Sepulang dari tanah suci, kapal jamaah haji yang ditumpangi Hj Rodiah dan kelurga berlabuh di dermaga Belawan (medan).

Tahun 1964-1965 diketahui adanya aksi pemberontakan PKI. Hal itu tentunya berdampak pada kondisi keamanan keberangkatan haji. Namun, karena sulitnya akses telekomunikasi, hanya radio menjadi alat tercanggih untuk mengetahui keadaan banua.

“Pada saat di Medan itu, kami mendengar di radio, pulau kambang di jatuhi bom,” ungkap Hj Rodiah.

Baca juga: Apa Itu Bid’ah?

Tak hanya itu, penduduk sekitar pelabuhan di medan pun masing-masing menggali tanah di depan rumahnya. Semula jamaah haji kebingungan menyaksiakan hal yang demikian. Ternyata, hal itu dimaksudkan untuk membuat semacam tempat persembunyian, apabila ada agresi dari pemberontakan PKI.

Tak lama di medan jamaah haji 1964 itu pun berangkat pulang.

Setibanya di kampung halaman, jamaah haji tempo dulu disambut bak keluarga raja. Yakni, dengan iring-iringan senoman hadrah, kemudian ketika sampai di rumah disambut dengan pembacaan burdah. Tidak hanya itu, berbagai acara masih menunggu para haji. Sementara bagi para tau, mereka yang datang itu bisa mencicipi seteguk air zamzam. Lalu meminta doa pada orang yang baru pulang haji. Agar dia juga dapat menunaikan rukun Islam kelima ini.

Setelah dua atau tiga hari istirahat di rumah, jamaah haji sekarang biasanya langsung bekerja atau berdagang. Tapi, tidak demikian kala itu. Orang yang berhaji masih harus menunggu selama berbulan-bulan, kerena banyaknya tamu yang datang. “Di depan rumah kami saat itu dibuat semacam tenda untuk menjamu para tamu, dari kedatangan di bulan Rabiul Awwal hingga bulan Ramadhan,” kata Hj Rodiah.

Di ruang tamu rumahnya disediakan kasur dan permadani. Selama 40 hari tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini. Kecuali mandi, buang air dan shalat. Di kasur itulah ia menerima para tamu.

Kenangan berhaji saat itu masih teringat jelas di benak Hj Rodiah. Hilir mudik kapal mengangkut jamaah haji, suasana hiburan kapal berupa layar tancap dan aktivitas olahraga di atas kapal, lumba-lumba yang mengiringi kapal sewaktu perjalanan. Baginya, itu menjadi kenangan manis yang tak pernah bisa dilupakan.

Penulis: Muhammad/lutfia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *