Sejarah Haji di Kalsel (2), Berangkat Haji seperti Berangkat Mati

sejarah haji kalsel. muhibbin.com

Muhibbin.com, BANJARMASIN – Sejarah haji di Kalimantan Selatan diwarnai dengan suka dan duka. Bagaimana tidak, pergi haji kala itu diibaratkan pergi berperang. Pelepasan jamaah haji oleh keluarga seolah merelakan kepergian saudaranya untuk pergi selamanya.

Pokoknya pergi haji di tempo dulu seolah-olah siap untuk mati. Tidak heran mereka yang akan menunaikan ibadah haji kala itu selalu dilepas dengan tangisan perpisahan yang memilukan.

Begitu lamanya pergi haji naik kapal ini, sehingga orang di tanah air tidak bisa mendengar kabar bagaimana keadaan keluarganya yang pergi haji. Lamanya perjalanan bisa dimaklumi karena kapal harus singgah di berbagai kota dan negeri sebelum sampai ke Arab Saudi.

Baca juga: Sejarah Haji di Kalsel (1), Perjalanan yang Memerlukan Ketabahan

Keberangkatan jamaah haji di tahun 1964, sebagaimana ceritakan Hj Rodiah, keberangkatan yang memakan waktu lama dan menuntut bersinggahnya kapal ke dermaga-dermaga di arus laut ke tanah suci. Seperti jamaah haji Kalsel yang harus menempuh beberapa kali persinggahan. Di antaranya dari kampung halaman ke pelabuhan lama, dari pelabuhan lama ke Surabaya, dari Surabaya ke Jakarta, dari Jakarta ke Zebuti (Nigeria, afrika), dari Zebuti baru ke Jeddah.

“Kami berkapal mulai dari Alalak ke pelabuhan Martapura lama menaiki kapal Berkat Arafah, kemudian berangkat ke Surabaya menaiki Kapal A Fan Oksiana. Sebelum memasuki wilayah perairan Saudi Arabia, kami singgah sebentar mengisi bahan bakar di Zebuti,” jelasnya.

Namun, itu hanyalah rute perjalanan yang ditulis secara singkat. Sebab, perjalanan enam bulan tersebut ternyata bukan masalah kapal melainkan pengaturan pemberangkatan haji kala itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *