Apa Itu Bid’ah?

apa itu bid'ah oleh Habib Munzir Musawa. muhibbin.com

Muhibbin.com, – Apa itu Bid’ah? Bid‘ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Lantas, bolehkan melakukan bid’ah? begini penjelasan pengasuh Majelis Rasulullah SAW, Almarhum Habib Munzir Musawa:

Nabi SAW memperbolehkan kita melakukan bid’ah hasanah, selama hal itu baik dan tidak menentang syariah. sebagaimana sabda beliau SAW:

“Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

Perhatikan hadits beliau SAW, bukankah beliau SAW menganjurkan? Maksudnya, bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas Islam, maka perbuatlah.

Alangkah indahnya bimbingan Nabi SAW yang tidak mencekik ummat. Beliau SAW tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan. Maka tentunya, pastilah diperlukan hal-hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman.

Inilah makna ayat: “Alyauma Akmaltu Lakum Diinukum…”, yang artinya, “Hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, Kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan Kuridhoi Islam sebagai agama kalian.”

Maksudnya, semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini. Semua hal yang baru selama itu baik, sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah mendapat restu oleh Allah dan rasul-Nya, alangkah sempurnanya Islam.

Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah. Karena setelah ayat ini, masih ada banyak ayat-ayat lain turun, masalah hutang dan lain-lain.

Berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna: Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim. Mulai kejadian turunnya ayat ini, maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik, boleh-boleh saja.

Namun tentunya, bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul SAW atau menghalalkan apa-apa yang sudah diharamkan oleh Rasul SAW atau sebaliknya.

Inilah makna hadits beliau SAW: “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

Beliau SAW telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang. Maka, beliau SAW memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau SAW saja, dan beliau SAW telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah. Karena hadits di atas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.

 

———————————————————-

Catatan: Teks berseumber dari buku Kenali Akidahmu karya Habib Munzir Musawa dengan sedikit editing dari Redaksi Muhibbin.com.

Mudah-mudahan ini tercatat sebagai amal jariyah Allahyarham Habib Munzir Musawa, bagi kami, juga bagi anda yang mau menyebarkannya.

 

2 thoughts on “Apa Itu Bid’ah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *